Dari judul ini terdengar sedikit ekstrem bukan? Tapi coba kita renungkan kembali sejenak. Kalau ada penjahat atau pencuri yang melakukan aksinya, kerugiannya jelas terukur. Ada pelaku, ada nominal yang hilang, dan ada penegakhukum yang tahu persis siapa yang harus dikejar.
Tapi, Bagaimana dengan sebuah kerusakan yang disebabkan oleh inkompetensi?
Bencana sesungguhnya terjadi ketika sesorang yang tidak menguasai bidangnya, duduk di kursi wewenang, dan mengambil keputusan. Orang inkompeten ini biasanya tidak memiliki niat jahat. Mereka juga tidak niat merampok. Tapi karena ketidaktahuan mereka yang diberi kuasa adalah resep kehancuran yang sempurna.
Kenapa inkompetensi lebih meatikan? Karena inkompetensi menyebabkan kerusakan Sistemik dan Meluas.
Contoh sederhana:
Bayangkan seorang auditor atau pembuat kebijakan yang sama sekali tidak paham cara kerja industri kreatif, lalu membuat aturan bahwa “ide dan konsep” itu nialnya adalah nol rupiah(seperti yang sempat viral di kasus Amsal Sitepu).
Inkompetensi itu “membuanuh” secara perlahan.
Ia membunuh semangat kerja, membunuh bisinis, membunuh inovasi, dan yang paling parah: membunuh keadilan.
Kejahatan dampaknya bisa merusak hari ini, tapi inkompetensi yang di biarkan bisa merusak masa depan banyak orang.
Coba perhatikan sekitar kita… Menurut teman-teman, mana yang lebih sering bikin repot di dunia kerja, proyek, atau birokrasi? Orang yang berniat jahat, atau orang yang “nggak paham tapi sok ngatur”?